Rivalitas Arab Saudi dan UEA Kembali Memanas

Rivalitas Arab Saudi dan UEA Kembali Memanas. Akhir November 2025, rivalitas antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali mengemuka dengan bentrokan sengit di wilayah Hadramaut, Yaman. Pasukan yang didukung UEA merebut kota Seiyun, pusat pemerintahan sementara yang dikendalikan sekutu Saudi, memicu kekhawatiran akan perang proksi baru di kawasan Teluk. Insiden ini bukan kebetulan, melainkan puncak dari ketegangan yang telah membara sejak awal tahun. Di Sudan, Saudi mendorong penunjukan pasukan pendukung cepat (Rapid Support Forces/RSF) sebagai organisasi teroris melalui lobi ke Gedung Putih, menargetkan dukungan UEA terhadap kelompok tersebut. Sementara itu, sengketa batas maritim di Laut Merah, di mana Saudi menolak klaim garis lurus UEA pada Februari lalu, menambah lapisan konflik atas sumber daya minyak dan gas. Kedua negara, yang dulu bersatu dalam koalisi anti-Houthi di Yaman sejak 2015, kini bersaing ketat atas pengaruh regional, ekonomi, dan energi. Dengan visi transformasi nasional masing-masing—Saudi Vision 2030 dan UAE 2031—persaingan ini menguji kestabilan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), di tengah upaya diversifikasi ekonomi yang saling tumpang tindih. BERITA BOLA

Eskalasi di Yaman dan Sudan: Rivalitas Arab Saudi dan UEA Kembali Memanas

Konflik di Hadramaut menjadi sorotan utama. Pada 29 November, pasukan elite Hadramaut yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan (STC)—didukung UEA—melancarkan serangan ke jalan raya menuju ladang minyak vital, memutus jalur pasok Saudi. Mereka merebut istana presiden di Seiyun, memicu pertempuran sengit dengan artileri berat sepanjang lembah Hadramaut. Wilayah ini, yang mencakup sepertiga luas Yaman dan garis pantai 450 kilometer, kaya minyak dan mineral, menjadikannya trofi strategis. Saudi, yang mendukung pemerintah Yaman yang diasingkan, menuduh UEA merusak upaya koalisi anti-Houthi. Analis melihat ini sebagai kelanjutan agenda UEA sejak 2015, di mana Abu Dhabi mendukung pemisahan selatan Yaman untuk mengamankan pelabuhan dan pulau Socotra, melemahkan pengaruh Riyadh.

Di Sudan, ketegangan memuncak saat Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman melobi Presiden AS Donald Trump pada November untuk sanksi sekunder terhadap UEA atas dukungannya pada RSF. Perang sipil Sudan sejak April 2023 telah menewaskan ribuan dan mengungsi jutaan, dengan Saudi mendukung Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) untuk stabilitas, sementara UEA dituduh memasok senjata ke RSF. Usulan gencatan senjata tiga bulan dari “Quad” (AS, Saudi, UEA, Mesir) gagal karena posisi bertolak belakang. Ini mengancam investasi Saudi di pertanian Sudan, yang krusial untuk keamanan pangan Vision 2030. UEA membantah tuduhan, tapi diamnya Presiden Mohammed bin Zayed atas lobi Saudi menunjukkan retak aliansi.

Persaingan Ekonomi dan Sumber Daya: Rivalitas Arab Saudi dan UEA Kembali Memanas

Di balik konflik militer, persaingan ekonomi semakin tajam. Saudi berupaya menyalip UEA sebagai pusat bisnis Timur Tengah dengan proyek Neom senilai ratusan miliar dolar, menargetkan pariwisata, logistik, dan teknologi. UEA, dengan fondasi kekayaan sovereign wealth yang lebih kuat, mempertahankan dominasi di Dubai sebagai hub perdagangan bebas. Ketegangan OPEC+ soal kuota produksi minyak—di mana UEA mendorong peningkatan untuk dana diversifikasi—membuat Riyadh kesal, karena Saudi lebih suka stabilitas harga untuk pendapatan perang. Pada 2025, persaingan ini meluas ke teknologi, di mana keduanya berebut investasi AI dan energi terbarukan.

Sengketa batas maritim memperburuk situasi. Pada Februari, Saudi mengirim nota ke Sekjen PBB, menolak keputusan UEA Maret 2024 soal garis lurus di Teluk Persia, yang melanggar perjanjian 1974. Ini memengaruhi Pulau Yasat, kaya sumber daya laut, dan ladang minyak Shaybah. Meski keduanya bergantung pada ekspor hidrokarbon, UEA dengan cadangan lebih kecil (100 miliar barel) mendorong transisi cepat ke hijau, sementara Saudi ingin perpanjangan dominasi minyak. Persaingan ini tak hanya soal uang, tapi juga supremasi regional, dengan Saudi melihat UEA sebagai saingan yang terlalu ambisius.

Respons Diplomatik dan Dampak Regional

Kedua pihak merespons dengan hati-hati. Saudi menekankan mediasi di Sudan dan Yaman, sambil meningkatkan keamanan perbatasan. UEA, melalui STC, membantah agresi dan menegaskan fokus pada stabilitas selatan Yaman. Di forum GCC, Riyadh mendorong rekonsiliasi, tapi Abu Dhabi tetap otonom. Komunitas internasional khawatir: AS, sekutu utama keduanya, terjebak di tengah, terutama dengan lobi Trump yang memihak Saudi. Di Suriah pasca-jatuhnya rezim Assad, keduanya berhati-hati mendekati Hayat Tahrir al-Sham karena akar Islamisnya, tapi bersaing atas kontrak rekonstruksi. Dampaknya meluas: harga minyak global naik ringan akibat ketidakpastian OPEC+, sementara stabilitas GCC terancam, membuka celah bagi Iran dan Houthi.

Kesimpulan

Rivalitas Saudi-UEA yang memanas di 2025 menggambarkan pergeseran dari aliansi ke kompetisi terbuka, didorong ambisi nasional dan visi masa depan yang bertabrakan. Bentrokan di Hadramaut dan lobi di Sudan menunjukkan betapa rapuhnya kemitraan ini, meski keduanya sadar akan ketidakstabilan regional. Tanpa dialog mendalam, persaingan ekonomi dan sumber daya bisa memicu eskalasi lebih luas, merugikan kedua belah pihak dan Teluk secara keseluruhan. Namun, kebutuhan bersama akan keamanan rezim dan diversifikasi menawarkan jalan keluar: keseimbangan ulang melalui kerjasama GCC yang lebih adil. Hanya dengan itu, potensi dua raksasa ini bisa saling melengkapi, bukan saling hancurkan, demi kawasan yang lebih stabil.

BACA SELENGKAPNYA DI..