Owner WO Ayu Puspita Menipu Korban Gunakan Modus Promo
Owner WO Ayu Puspita Menipu Korban Gunakan Modus Promo. Kasus dugaan penipuan massal oleh pemilik wedding organizer (WO) Ayu Puspita makin terkuak, dengan Polres Metro Jakarta Utara menetapkan ia sebagai tersangka utama pada Senin (8 Desember 2025). Modusnya sederhana tapi mematikan: tawarkan paket pernikahan murah lewat promo menarik, ambil uang muka hingga lunas, lalu hilang saat hari H. Hingga kini, 87 korban resmi lapor, dengan kerugian mencapai miliaran rupiah—banyak calon pengantin yang mimpi resepsi indah berubah jadi mimpi buruk. Ayu, yang kantornya di Cipayung, Jakarta Timur, ditahan bersama sepupu Dimas Haryo Puspo yang bantu bujuk tambah DP. Penggerebekan korban Minggu lalu picu penangkapan cepat, tapi polisi yakin jumlah korban bisa bertambah. Kasus ini jeritkan betapa rawannya calon pengantin dari janji manis WO abal-abal. BERITA BOLA
Modus Penipuan Paket Promo Murah: Owner WO Ayu Puspita Menipu Korban Gunakan Modus Promo
Ayu Puspita dan timnya gunakan promo sebagai umpan utama sejak 2024. Mereka tawarkan paket lengkap—katering, dekorasi, MC, hingga fotografi—dengan harga diskon 30-50 persen dari pasaran, via iklan medsos dan testimoni palsu. “Promo spesial untuk calon pengantin, hemat jutaan,” begitu iklannya. Korban, mayoritas pasangan muda di Jabodetabek, tergiur dan bayar DP Rp 20-50 juta dulu. Saat tambah DP, Dimas aktif bujuk via telepon: “Tambah sedikit, dapat bonus mewah.” Hasilnya, banyak lunasi hingga Rp 80 juta seperti korban inisial SOG. Tapi saat hari H, WO hilang—tak ada vendor, tak ada kontak. “Janji lengkap, nyatanya nol,” kata salah satu pelapor. Polisi sebut ini klasik: ambil uang, blokir nomor, ulang ke korban baru. Vendor juga kena imbas, tak dibayar meski kontrak.
Jumlah Korban dan Kerugian Miliaran: Owner WO Ayu Puspita Menipu Korban Gunakan Modus Promo
Polisi catat 87 laporan resmi sejak awal Desember, tapi angka bisa naik karena banyak korban malu cerita. Korban dari berbagai daerah: Jakarta Utara, Bekasi, hingga Depok, dengan kerugian per orang Rp 20-100 juta. Total estimasi Rp 3-5 miliar, termasuk biaya tambahan calon pengantin cari pengganti mendadak. “Ada yang sudah H-1, tiba-tiba WO lenyap,” cerita korban via penggerebekan Minggu. Ayu organisir semuanya: rekrut staf, atur promo, dan kelola rekening. Dimas, sepupu Ayu, fokus bujuk tambah bayar—ia tersangka kedua. Empat staf lain diamankan sebagai saksi, tapi polisi dalami peran mereka. Penggerebekan di kantor WO Cipayung dipicu ratusan calon pengantin marah, bawa Ayu ke polisi secara swadaya—langkah yang percepat penangkapan.
Penetapan Tersangka dan Proses Hukum
Ayu Puspita ditetapkan tersangka Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan/atau Pasal 372 KUHP penggelapan, dengan ancaman maksimal empat tahun penjara. Ia ditahan di Polres Metro Jakarta Utara sejak Senin malam, setelah pemeriksaan intensif. Kasat Reskrim Kompol Onkoseno Grandiarso Sukahar sebut bukti kuat: transfer bank, chat bujukan, dan testimoni korban. “Ayu organisir, Dimas bujuk—mereka satu keluarga, modus terstruktur,” ujarnya. Kapolres Kombes Erick Frendriz tambah, tak ada itikad baik selesaikan komplain—WO abaikan tuntutan pengembalian uang. Polisi buka posko laporan untuk korban baru, harap tutup kasus dalam sebulan. Ayu, yang dikenal dermawan di tetangga, kini hadapi tuntutan dari vendor tak dibayar juga.
Dampak Emosional bagi Calon Pengantin
Bukan cuma uang, korban trauma berat: resepsi batal, keluarga kecewa, stres mental. Banyak pasangan tunda nikah, cari WO baru dengan biaya ganda. “Mimpi pernikahan indah hancur, kami malu hadapi tamu,” kata satu korban. Kasus ini soroti celah industri WO: regulasi longgar, promo liar di medsos. OJK dan Kemenkop UKM dorong verifikasi WO terdaftar, tapi korban ingatkan: cek testimoni asli dulu. Polisi sarankan lapor cepat via hotline 110, cegah kerugian lebih luas.
Kesimpulan
Owner WO Ayu Puspita tipu korban lewat modus promo murah jadi pelajaran mahal bagi calon pengantin: janji manis bisa bohongi dompet dan hati. Dengan 87 korban dan miliaran hilang, penetapan tersangka Ayu dan Dimas harap beri keadilan—uang kembali, pelaku dihukum. Dari penggerebekan marah hingga pemeriksaan ketat, polisi gerak cepat; korban, kuatkan hati. Industri WO butuh pengawasan lebih ketat, supaya promo tak lagi jadi jebakan. Calon pengantin, cek dulu sebelum bayar—mimpi bahagia tak boleh dirampok. Kasus ini tutup, tapi waspada lanjut.
