Bagaimana Proses Skybridge Taman Langsat dan Ayodya
Bagaimana Proses Skybridge Taman Langsat dan Ayodya. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan ruang hijau Jakarta Selatan, skybridge penghubung Taman Langsat dan Taman Ayodya jadi sorotan utama. Proyek ini bagian dari revitalisasi Taman Bendera Pusaka, yang satukan tiga taman eksisting—Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Leuser—jadi kawasan hijau terpadu seluas 6,2 hektare di Kebayoran Baru. Groundbreaking resmi digelar 8 Agustus 2025 oleh Gubernur DKI Pramono Anung dan Megawati Soekarnoputri, dengan target operasional akhir 2026. Skybridge, jembatan gantung modern sepanjang 150 meter, bukan cuma akses mudah antar taman, tapi simbol komitmen Jakarta jadi kota global yang hijau dan inklusif. Saat ini, progres pembangunan capai 40 persen, lengkap fasilitas olahraga gratis dan pengolahan air limbah. Ini langkah cerdas dorong gaya hidup sehat warga, di tengah urbanisasi yang haus ruang terbuka. MAKNA LAGU
Latar Belakang dan Perencanaan Proyek: Bagaimana Proses Skybridge Taman Langsat dan Ayodya
Ide skybridge lahir dari rencana Pemprov DKI Mei 2025, saat Pramono umumkan penggabungan tiga taman untuk ciptakan ruang publik dinamis. Taman Langsat (3,6 hektare) dan Taman Ayodya (0,76 hektare) bersebelahan, tapi terpisah jalan raya—skybridge jadi solusi aman tanpa ganggu lalu lintas. Desain integratif ini, bekerja sama PT Integrasi Transit Jakarta sebagai project delivery partner, pakai pendekatan berkelanjutan: material ramah lingkungan seperti baja daur ulang dan tanaman vertikal. Perencanaan libatkan warga via sosialisasi Juni 2025, termasuk relokasi pedagang Pasar Burung Barito yang sudah tuntas. Anggaran dari APBD DKI Rp 150 miliar, plus kontribusi swasta via KLB pelampauan. Tujuan utama: tingkatkan akses pejalan kaki 30 persen, kurangi banjir via IPAL, dan dukung RPJPD Jakarta kota global.
Tahapan Pembangunan Skybridge: Bagaimana Proses Skybridge Taman Langsat dan Ayodya
Proses dimulai pasca groundbreaking Agustus, dengan survei geoteknik dan pondasi di September. Tahap pertama: pondasi tiang penyangga di kedua ujung skybridge, pakai bor pile diameter 1 meter untuk tahan beban 500 orang sekaligus. Oktober, pemasangan struktur baja utama—panjang 150 meter, lebar 4 meter—dikerjakan crane tower, capai ketinggian 8 meter di atas jalan. November, instalasi dek lantai anti-slip dan railing kaca tempered, lengkap pencahayaan LED solar. Saat ini, progres 40 persen: pemasangan kabel penggantung dan tanaman hijau vertikal selesai 70 persen. Tahap akhir: uji beban struktural Januari 2026, diikuti finishing seperti bangku dan papan informasi. Kontraktor lokal tangani 80 persen pekerjaan, libatkan 200 tenaga kerja—target selesai Juni 2026, sinkron dengan revitalisasi taman keseluruhan.
Manfaat dan Dampak bagi Masyarakat
Skybridge ini tak cuma jembatan; ia transformasi ruang publik. Warga Kebayoran Baru bisa jalan kaki aman antar taman, nikmati trek jogging 2 km, lapangan padel gratis, dan perpustakaan keliling. Dampak ekologis: IPAL olah limbah 50 persen, plus saringan sampah kurangi banjir 20 persen di kawasan rawan. Ekonomi lokal untung: relokasi pedagang ke zona khusus tingkatkan omzet 15 persen, sementara wisatawan domestik naik via akses MRT Kebayoran Lama. Pramono bilang, “Ini ruang hijau yang inklusif, dorong silaturahmi dan olahraga.” Tantangan: minim gangguan lalu lintas via jadwal malam, tapi warga apresiasi—survei Oktober tunjuk 85 persen dukung. Ini model regenerasi kota, inspirasi proyek serupa di Blok M Hub.
Kesimpulan
Proses skybridge Taman Langsat dan Ayodya jadi cerita sukses revitalisasi Taman Bendera Pusaka, dari perencanaan integratif hingga tahap pondasi dan struktur yang kian matang. Dengan manfaat ekologis dan sosial yang nyata, proyek ini tak cuma hubungkan taman, tapi jaga warisan budaya Jakarta. Pramono dan tim Pemprov beri harapan: akhir 2026, Kebayoran Baru punya oase hijau terpadu. Warga punya alasan bangga—ini bukan proyek megah semata, tapi ruang hidup yang nyaman. Pantau progres, karena skybridge ini siap jadi ikon baru Jakarta Selatan.
