Harga Daging Sapi Naik 30% di Pasar Jakarta
Harga Daging Sapi Naik 30% di Pasar Jakarta. Harga daging sapi di pasar-pasar tradisional Jakarta melonjak tajam dalam dua minggu terakhir. Pada Jumat (13 Februari 2026), rata-rata harga daging sapi bagian has dalam mencapai Rp165.000–Rp175.000 per kilogram, naik sekitar 30% dibandingkan awal Januari lalu yang masih berkisar Rp125.000–Rp130.000 per kg. Kenaikan ini langsung dirasakan ibu rumah tangga dan pedagang kecil, terutama menjelang Ramadan yang tinggal sekitar sebulan lagi. Beberapa pedagang di Pasar Minggu, Pasar Ciracas, dan Pasar Jatinegara bahkan melaporkan stok mulai menipis karena pemasok enggan melepas barang dengan harga rendah. Lonjakan harga ini dipicu kombinasi faktor pasokan yang terbatas dan permintaan yang mulai meningkat lebih awal dari biasanya. REVIEW KOMIK
Penyebab Utama Kenaikan Harga: Harga Daging Sapi Naik 30% di Pasar Jakarta
Beberapa faktor saling bertumpuk menjadi pemicu utama. Pertama, pasokan sapi bakalan dari peternak lokal menurun signifikan sejak akhir 2025. Banyak peternak di Jawa Tengah dan Jawa Timur memilih menahan stok karena biaya pakan jagung dan dedak yang masih tinggi meski harga jagung impor sudah turun. Kedua, impor daging beku dan sapi hidup dari Australia serta Brasil mengalami hambatan logistik akibat cuaca buruk di negara asal dan antrean panjang di pelabuhan Tanjung Priok. Ketiga, permintaan mulai naik lebih cepat dari biasanya karena pedagang dan rumah potong hewan sudah menyiapkan stok untuk Ramadan dan Lebaran, sehingga terjadi perebutan barang di hulu.
Data dari Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta menunjukkan stok daging sapi di Jakarta saat ini hanya mencukupi untuk 18–20 hari ke depan jika tidak ada tambahan pasokan. Harga eceran di pasar tradisional kini jauh lebih tinggi dibandingkan di supermarket modern yang masih menahan harga Rp140.000–Rp150.000 per kg berkat kontrak jangka panjang dengan importir. Akibatnya, banyak konsumen beralih ke daging kerbau atau ayam potong, tapi kenaikan itu pun mulai merembet ke komoditas lain.
Dampak dan Respons Pemerintah: Harga Daging Sapi Naik 30% di Pasar Jakarta
Kenaikan harga langsung terasa di kantong masyarakat kelas menengah ke bawah. Pedagang warteg dan soto mengeluh omset turun karena pelanggan mengurangi porsi daging atau beralih ke menu tanpa daging. Beberapa rumah tangga mulai mengurangi konsumsi daging sapi dari 2–3 kali seminggu menjadi sekali seminggu. Di sisi lain, peternak besar dan importir justru mendapat keuntungan lebih tinggi karena selisih harga yang melebar.
Pemerintah pusat dan Pemprov DKI Jakarta merespons dengan cepat. Bulog menyatakan akan melepas stok daging sapi beku impor sebanyak 15.000 ton mulai minggu depan dengan harga eceran maksimal Rp135.000 per kg melalui pasar rakyat dan ritel modern. Kementerian Pertanian juga mempercepat distribusi sapi bakalan dari Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan untuk menambah pasokan hidup. Operasi pasar murah daging sapi beku sudah digelar di 15 titik di Jakarta sejak Kamis, meski antrean panjang dan kuota terbatas membuat tidak semua warga kebagian. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan akan memperpanjang operasi pasar hingga akhir Februari jika harga belum turun signifikan.
Kesimpulan
Kenaikan harga daging sapi hingga 30% di pasar Jakarta menjadi pengingat bahwa stabilitas pangan tidak bisa hanya diandalkan pada impor dan mekanisme pasar semata. Panen raya sapi lokal yang seharusnya menekan harga malah tidak optimal karena biaya pakan tinggi dan distribusi yang lambat. Respons pemerintah dengan operasi pasar dan pelepasan stok impor memang penting untuk meredam gejolak jangka pendek, tapi solusi jangka panjang harus lebih struktural: memperkuat peternakan rakyat, memperbaiki rantai pasok dari peternak ke konsumen, dan mengendalikan biaya pakan melalui subsidi tepat sasaran. Bagi masyarakat, kenaikan ini memang terasa berat, tapi juga jadi momentum untuk lebih menghargai produksi lokal. Semoga Ramadan tahun ini tidak lagi diwarnai lonjakan harga daging yang menyulitkan, dan petani serta peternak kecil bisa mendapat bagian yang lebih adil dari kenaikan harga yang terjadi.
