Angkot Dilarang Untuk Beroperasi Selama 4 Hari di Bogor

Angkot Dilarang Untuk Beroperasi Selama 4 Hari di Bogor. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberlakukan penghentian sementara operasional angkutan kota di jalur Puncak, Bogor, selama empat hari pada periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kebijakan ini diterapkan pada 24-25 Desember serta 30-31 Desember 2025, mencakup sekitar 750 kendaraan dari tiga trayek utama. Tujuannya mengurangi kemacetan parah yang biasa terjadi saat lonjakan wisatawan ke kawasan Puncak. Sebagai gantinya, sopir dan pemilik angkot mendapat kompensasi harian untuk mengganti pendapatan yang hilang. Langkah ini melanjutkan praktik sukses sebelumnya dan menjadi bagian dari rekayasa lalu lintas akhir tahun. BERITA VOLI

Alasan Penghentian Operasional: Angkot Dilarang Untuk Beroperasi Selama 4 Hari di Bogor

Jalur Puncak sering macet total saat libur panjang karena volume kendaraan melonjak drastis. Angkot yang sering berhenti sembarangan untuk naik-turun penumpang jadi salah satu pemicu utama kepadatan. Dengan menghentikan operasional angkot sementara, arus lalu lintas diharapkan lebih lancar, terutama untuk kendaraan pribadi wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya. Kebijakan ini terbukti efektif saat libur Lebaran sebelumnya, di mana kecepatan rata-rata kendaraan meningkat signifikan. Pemerintah daerah juga siapkan rekayasa lain seperti ganjil-genap dan satu arah untuk mendukung kelancaran secara keseluruhan.

Kompensasi untuk Sopir dan Pemilik: Angkot Dilarang Untuk Beroperasi Selama 4 Hari di Bogor

Untuk meringankan dampak, setiap sopir dan pemilik angkot terdampak mendapat kompensasi Rp200 ribu per hari. Total selama empat hari, masing-masing bisa terima Rp800 ribu. Dana ini ditransfer langsung, menyasar trayek 02A, 02B, dan 02C yang menghubungkan Ciawi ke Puncak. Pemerintah provinsi anggarkan khusus untuk ribuan penerima, termasuk sopir cadangan. Langkah ini dianggap adil karena mengganti pendapatan harian yang biasanya hilang total saat libur. Pengawasan ketat dilakukan agar kompensasi tepat sasaran dan angkot benar-benar berhenti operasi.

Pengawasan dan Dampak bagi Masyarakat

Petugas dari dinas perhubungan dan kepolisian disiagakan di sepanjang jalur Puncak. Angkot yang nekat beroperasi akan langsung dihentikan dan diputar balik. Kebijakan ini hanya berlaku di kawasan Puncak, sementara angkot di Kota Bogor tetap berjalan normal. Bagi wisatawan, ini berarti jalur lebih lega, tapi pengguna angkot lokal disarankan pakai alternatif lain selama periode tersebut. Dampak positifnya, keselamatan jalan meningkat karena berkurangnya hambatan dari angkutan umum. Masyarakat diminta kooperatif agar liburan akhir tahun lebih nyaman bagi semua.

Kesimpulan

Penghentian operasional angkot selama empat hari di jalur Puncak Bogor jadi strategi tepat untuk atasi kemacetan kronis saat Nataru. Dengan kompensasi yang layak dan pengawasan ketat, kebijakan ini seimbang antara kelancaran lalu lintas dan kesejahteraan sopir. Hasilnya diharapkan jalur wisata ikonik ini lebih aman dan nyaman bagi jutaan pengunjung. Langkah serupa bisa jadi contoh untuk destinasi lain yang rawan macet. Pada akhirnya, kerjasama semua pihak jadi kunci sukses liburan akhir tahun yang lancar dan menyenangkan.

BACA SELENGKAPNYA DI…