Ukraina Akan Gelar Pemilu Jika AS Bisa Menjamin Keamanan
Ukraina Akan Gelar Pemilu Jika AS Bisa Menjamin Keamanan. Di tengah tekanan perang yang tak kunjung usai, Ukraina lemparkan bola panas ke panggung internasional dengan tawaran pemilu dini. Pada 9 Desember 2025, Presiden Volodymyr Zelenskyy tegaskan bahwa negaranya siap gelar pemilihan presiden dalam 60 hingga 90 hari, asal Amerika Serikat dan sekutu Eropa beri jaminan keamanan yang solid. Pernyataan ini keluar saat Zelenskyy pulang dari tur diplomatik di Eropa, langsung respons kritik tajam dari Presiden AS Donald Trump yang tuduh ia pertahankan kekuasaan lewat alasan perang. Sejak invasi Rusia Februari 2022, martial law blokir pemilu—mandat Zelenskyy habis Mei 2024, tapi konstitusi larang voting di masa darurat. Tawaran ini, yang disebut Zelenskyy sebagai “langkah berani”, jadi taktik negosiasi untuk amankan dukungan Barat, terutama saat Trump dorong kesepakatan damai yang condong ke Moskow. Di tengah koridor gelap perundingan, ini bisa jadi kunci atau jebakan—Ukraina haus legitimasi, tapi Rusia pasti manfaatkan. BERITA BOLA
Latar Belakang Penundaan Pemilu: Ukraina Akan Gelar Pemilu Jika AS Bisa Menjamin Keamanan
Pemilu Ukraina tertunda sejak 2022 karena martial law yang diperpanjang berkali-kali oleh parlemen. Konstitusi Pasal 103 larang voting saat darurat, alasan Zelenskyy pertahankan mandatnya. Polling internal tunjukkan 70 persen warga tolak pemilu perang—risiko serangan Rusia, akses terbatas di wilayah pendudukan, dan jutaan pengungsi jadi hambatan logistik. Sebelum invasi, Zelenskyy menang telak 73 persen di 2019, tapi kini dukungan turun ke 60 persen di tengah kelelahan perang. Trump, dalam wawancara Fox News 8 Desember, sebut “Zelenskyy pakai perang sebagai alasan hindari vote”—kritik yang Zelenskyy balas dengan tawaran ini. Ini bukan ide baru; parlemen Ukraina Juni lalu konfirmasi mandat Zelenskyy konstitusional, tapi oposisi seperti Petro Poroshenko tuntut pemilu untuk legitimasi. Tawaran 60-90 hari ini selaras resolusi parlemen yang izinkan vote di martial law, asal aman.
Syarat Keamanan dari AS dan Eropa: Ukraina Akan Gelar Pemilu Jika AS Bisa Menjamin Keamanan
Zelenskyy tak main-main soal syarat: jaminan keamanan dari AS, mungkin bareng Eropa, untuk lindungi proses vote dari serangan Rusia. “Saya minta AS bantu saya, mungkin sama rekan Eropa, amankan pemilu—lalu Ukraina siap dalam 60-90 hari,” katanya di konferensi pers Kyiv. Ini termasuk tiga dokumen diskusi: kerangka damai 20 poin, jaminan keamanan, dan proposal bantuan militer. Zelenskyy tuntut pertemuan kepemimpinan AS dalam seminggu, soroti peran Eropa—seperti Inggris, Prancis, Jerman—untuk cegah invasi ulang. Trump, yang janji akhiri perang “dalam sehari” pasca-pilpres November, lihat ini sebagai peluang: vote bisa konfirmasi dukungan rakyat untuk kesepakatan damai. Tapi Rusia, via Kremlin, sebut pemilu “farsa”—mereka tak akui wilayah pendudukan, yang kuasai 18 persen Ukraina. Eropa, lewat Macron dan Starmer, dukung ide ini tapi khawatir logistik: jutaan tentara di garis depan tak bisa vote aman.
Respons Trump dan Implikasi Politik
Trump langsung respons positif tapi licik: “Bagus, Zelenskyy akhirnya sadar demokrasi penting—tapi vote harus adil, dan damai dulu.” Ini selaras strategi Trump: tekan Ukraina terima kesepakatan yang beri Rusia konsesi seperti netralitas, tukar jaminan AS. Zelenskyy, yang tolak rencana damai “Moscow-friendly”, lihat pemilu sebagai bargaining chip—legitimasi baru bisa kuatkan negosiasi. Oposisi Ukraina campur: Poroshenko dukung, tapi khawatir manipulasi. Implikasinya besar: pemilu sukses bisa perkuat Zelenskyy, tapi gagal—karena serangan Rusia—bisa picu krisis internal. AS beri bantuan 37,8 miliar dolar tahun ini, tapi Kiel Institute peringatkan 2025 jadi tahun terendah sejak invasi. Eropa, via Paus Fransiskus, tekankan peran mereka di jaminan keamanan. Ini jadi ujian: apakah vote jadi jembatan damai atau jebakan politik.
Kesimpulan
Tawaran Zelenskyy gelar pemilu dalam 60-90 hari asal AS jamin keamanan jadi langkah berani di tengah perang Ukraina, respons kritik Trump yang tuntut legitimasi. Dari latar martial law hingga syarat ketat Eropa, ini taktik negosiasi untuk amankan dukungan Barat dan perkuat mandat. Trump lihat peluang damai, Rusia sebut farsa—tapi bagi Ukraina, vote ini soal harapan rakyat di garis depan. Implikasinya luas: sukses bisa percepat akhir konflik, gagal picu krisis. Di akhir 2025, saat bantuan melambat, ini pengingat: demokrasi tak mati di perang, tapi butuh jaminan nyata. Zelenskyy siap, dunia tunggu langkah selanjutnya—semoga vote jadi awal perdamaian, bukan korban baru.
