IHSG Anjlok 2% ke 7.935, Sentimen Moody’s Negatif

IHSG Anjlok 2% ke 7.935, Sentimen Moody’s Negatif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 2,04% atau turun 165,12 poin ke level 7.935,78 pada perdagangan Jumat 7 Februari 2026. Penurunan tajam ini menjadi salah satu pelemahan harian terdalam sejak akhir 2025 dan langsung dipicu sentimen negatif dari pemangkasan outlook sovereign credit rating Indonesia oleh Moody’s pada 5 Februari. Bursa dibuka langsung merah dan terus tertekan sepanjang sesi, dengan volume perdagangan mencapai Rp14,8 triliun dan investor asing mencatat net sell Rp2,3 triliun. Rupiah juga melemah 0,7% ke Rp16.520 per dolar AS, sementara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke 6,98%. INFO CASINO

Penyebab Utama dan Sentimen Pasar: IHSG Anjlok 2% ke 7.935, Sentimen Moody’s Negatif

Pemangkasan outlook Moody’s dari stabil menjadi negatif menjadi pemicu utama. Moody’s menyoroti tiga risiko utama:
Defisit fiskal yang terus melebar (proyeksi 2,7% PDB pada 2025, di atas target awal)
Ketergantungan tinggi pada aliran modal asing di tengah suku bunga global yang tinggi
Ketidakpastian reformasi struktural jangka menengah, terutama hilirisasi dan transisi energi
Rating Baa2 tetap dipertahankan, tapi outlook negatif membuka kemungkinan downgrade dalam 12–18 bulan ke depan jika defisit tidak terkendali. Pasar langsung bereaksi: sektor perbankan dan komoditas menjadi yang paling tertekan karena sensitif terhadap biaya dana dan nilai tukar. Saham-saham blue chip seperti BBCA (–3,1%), BBRI (–3,6%), BMRI (–3,2%), ADRO (–4,5%), dan INCO (–4,8%) memimpin penurunan.
Investor asing terus menjual saham Indonesia sejak pengumuman Moody’s, dengan net sell kumulatif Rp4,1 triliun dalam dua hari terakhir. Yield obligasi yang naik mencerminkan premi risiko yang lebih tinggi, sementara rupiah tertekan karena outflow modal portofolio. Analis pasar menyebut pelemahan ini masih bersifat sentimen jangka pendek, tapi bisa berlanjut jika lembaga rating lain (S&P atau Fitch) mengikuti langkah Moody’s.

Respons Pemerintah dan Bank Indonesia: IHSG Anjlok 2% ke 7.935, Sentimen Moody’s Negatif

Kementerian Keuangan langsung merespons dengan pernyataan bahwa outlook negatif lebih dipengaruhi faktor eksternal global daripada kelemahan domestik. Pemerintah menegaskan komitmen menjaga defisit di bawah 3% PDB pada 2026 dan melanjutkan reformasi struktural untuk meningkatkan penerimaan negara. Bank Indonesia menyatakan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi valas dan operasi moneter yang pro-stabilitas.
Menteri Keuangan menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2025 yang diproyeksi 5,1–5,5% dan inflasi 2,5±1% tetap menjadi penopang utama rating Indonesia. Cadangan devisa yang masih di atas US$150 miliar juga disebut mampu menahan gejolak jangka pendek.

Kesimpulan

IHSG anjlok 2,04% ke 7.935,78 pada 7 Februari 2026 menjadi respons pasar terhadap pemangkasan outlook negatif oleh Moody’s. Tekanan jual terutama menyasar saham perbankan dan komoditas, ditambah pelemahan rupiah dan kenaikan yield obligasi. Meski terasa berat, fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan penurunan ini kemungkinan bersifat sementara selama tidak ada sinyal negatif tambahan dari lembaga rating lain. Respons cepat pemerintah dan Bank Indonesia menunjukkan komitmen menjaga stabilitas, tapi disiplin fiskal dan reformasi struktural tetap menjadi kunci utama. Investor disarankan tetap tenang, fokus pada saham berkualitas, dan memantau komunikasi resmi pemerintah serta BI. Pasar keuangan Indonesia punya ketahanan yang baik—yang terpenting sekarang adalah menjaga momentum pertumbuhan dan kepercayaan investor agar sentimen bisa kembali positif dalam waktu dekat.

BACA SELENGKAPNYA DI…