Abrasi Sungai Batanghari Diduga Akan Mengancam Pemukiman

Abrasi Sungai Batanghari Diduga Akan Mengancam Pemukiman. Abrasi sungai Batanghari yang semakin parah belakangan ini mulai mengkhawatirkan warga di sepanjang alur sungai, terutama di wilayah Kabupaten Muaro Jambi dan Kota Jambi. Peneliti lingkungan dan warga setempat menduga bahwa tanpa penanganan serius, abrasi ini berpotensi mengancam ratusan rumah dan lahan pertanian dalam waktu dekat. Pada 15 Januari 2026, tim pemantau sungai mencatat erosi tanah mencapai 3-5 meter di beberapa titik kritis sejak musim hujan dimulai November lalu. Situasi ini diperburuk oleh curah hujan tinggi dan aliran air yang semakin deras, sehingga tebing sungai mudah longsor dan menggerus daratan. BERITA TERKINI

Penyebab Utama Abrasi yang Semakin Parah: Abrasi Sungai Batanghari Diduga Akan Mengancam Pemukiman

Abrasi Batanghari tidak terjadi tiba-tiba. Beberapa faktor utama yang saling memperkuat membuat kondisi semakin buruk. Pertama, deforestasi di hulu sungai membuat aliran air lebih cepat dan membawa sedimen lebih banyak. Hutan lindung di daerah hulu banyak berubah fungsi menjadi kebun sawit dan tambang, sehingga tanah tidak lagi mampu menyerap air hujan dengan baik. Kedua, penambangan pasir ilegal di sepanjang sungai memperlemah struktur tebing. Aktivitas ini meninggalkan lubang-lubang besar di dasar sungai, sehingga aliran air menjadi lebih deras dan mengikis tanah lebih agresif. Ketiga, pembuangan sampah dan limbah rumah tangga ke sungai menyumbat alur, memaksa air mencari jalan baru dan menggerus tepian. Curah hujan ekstrem selama dua bulan terakhir menjadi pemicu langsung, membuat abrasi yang sudah kronis langsung terlihat dampaknya.

Dampak Langsung terhadap Pemukiman dan Ekonomi Warga: Abrasi Sungai Batanghari Diduga Akan Mengancam Pemukiman

Beberapa desa di tepi sungai Batanghari sudah merasakan ancaman nyata. Di Kecamatan Kumpeh Ulu dan Maro Sebo, belasan rumah panggung sudah miring dan hampir roboh karena tanah di bawahnya terkikis. Warga setempat melaporkan bahwa lahan pertanian seluas puluhan hektare terancam hilang jika abrasi terus berlanjut. Sawah yang biasa ditanami padi dan sayuran kini sering tergenang lumpur, sehingga hasil panen menurun drastis. Beberapa keluarga sudah mulai mengungsi sementara ke rumah saudara karena takut rumah mereka ambruk kapan saja. Dari sisi ekonomi, nelayan kecil juga kesulitan karena alur sungai berubah dan ikan semakin sulit ditangkap. Warga meminta pemerintah daerah segera melakukan pengecoran tebing atau pembuatan bronjong agar rumah mereka tidak lagi terancam.

Langkah Penanganan dan Antisipasi ke Depan

Pemerintah daerah bersama provinsi telah mengirim tim teknis untuk melakukan pemetaan dan pengukuran abrasi. Rencana jangka pendek meliputi pemasangan bronjong bambu dan batu di titik-titik paling kritis serta normalisasi sungai dengan pengerukan sedimen. Untuk jangka menengah, ada rencana pembangunan tanggul permanen di daerah rawan, meski anggaran masih menjadi kendala utama. Masyarakat setempat diminta tidak lagi membuang sampah ke sungai dan menjaga vegetasi di tepian agar akar pohon bisa memperkuat tanah. Beberapa kelompok masyarakat juga mulai menanam pohon vetiver dan bambu sebagai pagar alami untuk memperlambat erosi. Pemerintah provinsi berjanji akan mengalokasikan dana tambahan melalui program penanggulangan bencana jika kondisi semakin memburuk.

Kesimpulan

Abrasi Sungai Batanghari yang semakin mengancam pemukiman menjadi peringatan serius bahwa pengelolaan sumber daya alam harus lebih bijak. Kombinasi deforestasi, penambangan ilegal, dan pembuangan sampah telah mempercepat kerusakan yang sebenarnya bisa dicegah. Warga yang selama ini bergantung pada sungai kini menghadapi risiko kehilangan rumah dan lahan. Penanganan cepat dari pemerintah daerah dan provinsi sangat diperlukan, baik dalam bentuk infrastruktur darurat maupun program jangka panjang untuk memulihkan ekosistem sungai. Jika tidak segera ditangani, abrasi ini berpotensi menimbulkan bencana lebih besar di musim hujan mendatang. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta menjadi kunci agar Sungai Batanghari tetap menjadi sumber kehidupan, bukan ancaman bagi warganya.

BACA SELENGKAPNYA DI…