Polisi Menangkap Pelaku Begal Payudara Anak Bawah Umur

Polisi Menangkap Pelaku Begal Payudara Anak Bawah Umur. Polisi berhasil menangkap seorang pria berinisial AA (32) yang diduga melakukan aksi begal payudara terhadap anak perempuan berusia 15 tahun di kawasan pinggiran Jakarta Selatan pada malam 13 Januari 2026; penangkapan dilakukan kurang dari 24 jam setelah kejadian setelah korban dan keluarganya melapor ke polsek setempat dengan bukti rekaman CCTV dari warung makan terdekat, pelaku yang bekerja sebagai buruh harian lepas ini langsung ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan untuk proses penyidikan lebih lanjut, kasus ini kembali menarik perhatian publik karena menambah daftar panjang kekerasan seksual terhadap anak di tempat umum, memicu kemarahan sekaligus dorongan agar aparat lebih sigap dalam patroli malam hari. MAKNA LAGU

Kronologi Kejadian dan Penangkapan: Polisi Menangkap Pelaku Begal Payudara Anak Bawah Umur

Kejadian bermula sekitar pukul 21.30 WIB ketika korban berjalan kaki pulang dari rumah teman setelah mengerjakan tugas kelompok; korban yang masih mengenakan seragam sekolah melintasi jalan kecil yang cukup sepi, tiba-tiba seorang pria mengendarai sepeda motor mendekat dari belakang, menarik tangan korban hingga hampir jatuh, lalu meremas payudaranya dengan kasar sebelum melarikan diri ke arah gang sempit, korban yang syok sempat berteriak meminta tolong tapi tidak ada warga yang langsung keluar membantu, setelah kejadian korban langsung menghubungi ibunya dan bersama-sama melapor ke polsek terdekat, petugas kemudian memeriksa rekaman CCTV dari warung makan yang kebetulan menghadap ke lokasi, gambar pelaku yang jelas tertangkap kamera langsung disebar ke seluruh unit patroli, kurang dari 12 jam kemudian polisi berhasil melacak dan menangkap AA di kontrakan tempat tinggalnya, pelaku tidak melawan saat ditangkap dan langsung mengakui perbuatannya.

Motif Pelaku dan Kondisi Korban: Polisi Menangkap Pelaku Begal Payudara Anak Bawah Umur

Pelaku mengaku melakukan perbuatan itu karena dorongan nafsu sesaat setelah melihat korban berjalan sendirian di malam hari; ia mengatakan tidak memiliki niat merencanakan kejahatan sebelumnya dan hanya ingin “mencoba” karena merasa yakin tidak akan tertangkap, pengakuan ini langsung ditolak oleh penyidik karena motif seksual tetap menjadi unsur utama tindak pidana yang dilakukan, korban sendiri mengalami trauma berat, sempat menolak bertemu orang lain dan mengalami kesulitan tidur serta nafsu makan menurun, keluarga korban langsung membawa anaknya ke psikolog untuk mendapatkan pendampingan, pihak sekolah juga turun tangan dengan memberikan konseling khusus dan memastikan korban tidak dikucilkan oleh teman-temannya, kasus ini menambah daftar panjang kekerasan seksual terhadap anak perempuan di tempat umum yang sering kali terjadi karena kurangnya penerangan dan patroli di kawasan perumahan padat penduduk.

Respons Masyarakat dan Langkah Polisi

Kejadian ini langsung memicu kemarahan warga sekitar yang menggelar aksi damai kecil di depan kantor polsek menuntut hukuman maksimal bagi pelaku; banyak ibu-ibu dan remaja perempuan yang ikut serta menyuarakan agar polisi lebih sering melakukan patroli malam dan memasang lampu penerangan di gang-gang kecil, polisi setempat merespons dengan menggelar operasi rutin malam hari dan menambah pos pengamanan di titik rawan, penyidik juga sedang menelusuri kemungkinan adanya korban lain karena modus pelaku terlihat spontan dan berani, jaksa penuntut umum sudah menyatakan akan menjerat pelaku dengan pasal kekerasan seksual terhadap anak yang ancaman hukumannya bisa mencapai 15 tahun penjara, masyarakat diharapkan tetap waspada dan segera melapor jika melihat tindakan mencurigakan di lingkungan masing-masing.

Kesimpulan

Penangkapan pelaku begal payudara terhadap anak bawah umur di Jakarta Selatan menjadi kabar baik di tengah maraknya kasus kekerasan seksual, namun juga menjadi pengingat bahwa keamanan perempuan dan anak di tempat umum masih menjadi pekerjaan rumah besar; respons cepat polisi patut diapresiasi, tapi pencegahan melalui penerangan yang memadai, patroli rutin, dan edukasi kepada masyarakat jauh lebih penting untuk mencegah kejadian serupa terulang, korban yang masih trauma membutuhkan dukungan penuh dari keluarga, sekolah, dan komunitas agar bisa pulih secara fisik maupun psikis, semoga kasus ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk lebih serius melindungi anak-anak dari ancaman kekerasan di ruang publik.

BACA SELENGKAPNYA DI…