RSUD Aceh Tamiang Kini Dipenuhi Oleh Lumpur Bekas Banjir

RSUD Aceh Tamiang Kini Dipenuhi Oleh Lumpur Bekas Banjir. Bencana banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang sejak akhir November 2025 terus ungkap wajah mengerikan pasca-musibah. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia Aceh Tamiang, di Kecamatan Karang Baru, kini seperti medan perang: dipenuhi lumpur tebal setebal 40 cm yang merendam lantai, ruangan, dan peralatan medis. Kondisi ini terungkap saat banjir surut pada 4 Desember, meninggalkan lumpur kering yang mengeras dan bikin akses sulit. Bupati Aceh Tamiang Irjen (Purn) Armia Pahmi targetkan pembersihan selesai dalam tiga hari, tapi realitas lapangan lebih keras. Dengan 10 pasien meninggal saat banjir menerjang dan 90 persen tenaga medis terdampak, RSUD ini lumpuh total—layanan darurat pindah ke posko pengungsian. Di tengah 57 jenazah ditemukan dan 42 ribu pengungsi, pemandangan ini jadi simbol betapa bencana ini tak pandang fasilitas vital. BERITA BOLA

Kondisi RSUD Pasca-Banjir: RSUD Aceh Tamiang Kini Dipenuhi Oleh Lumpur Bekas Banjir

Saat banjir bandang hantam 25 November, air setinggi 1,5-2 meter merendam lantai pertama RSUD sepenuhnya. Saat surut, lumpur hitam pekat dari Sungai Tamiang numpuk di mana-mana: lorong, ruang rawat inap, bahkan ruang operasi. Peralatan medis seperti ventilator, infus, dan obat rusak total—senilai miliaran rupiah. Lantai licin, dinding retak, dan bau amis campur lumpur bikin suasana mencekam. Direktur RSUD Andika Putra bilang: “Seluruh ruangan tergenang, tak layak untuk pasien.” Saat banjir, 10 pasien tewas karena evakuasi terganggu—termasuk lansia dan bayi baru lahir yang butuh oksigen darurat. Listrik putus total, bikin ruangan gelap gulita; PLN baru kirim genset 33.000 watt pada 4 Desember. Akses ke RSUD juga tertutup kendaraan terbawa banjir, yang harus digotong manual sebelum pembersihan mulai.

Upaya Pembersihan oleh Tim Gabungan: RSUD Aceh Tamiang Kini Dipenuhi Oleh Lumpur Bekas Banjir

Pembersihan dimulai Kamis, 4 Desember 2025, dengan kekuatan awal 35 personel TNI AD dari Kodim 0117/Aceh Tamiang. Dandim Letkol Arm Raden Subhi Fitra Jaya tambah jadi 80 prajurit untuk gali lumpur yang mengeras. Mereka pakai sekop, ember, dan pompa air, target angkut 200 ton material harian. “Lantai tertutup 40 cm, sudah keras seperti semen—susah digali,” cerita Subhi Fitra. Tim gabungan BNPB, BPBD Aceh Tamiang, dan relawan lokal ikut andil: 5 unit excavator dan 10 dump truck dikerahkan untuk buang lumpur ke TPA. Bupati Armia Pahmi cek langsung 6 Desember bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, sebut target tiga hari realistis. “Banyak tim gabungan bantu, semoga lancar,” ujar Armia. Hingga 7 Desember, 30 persen ruangan sudah bersih, tapi obat dan alat rusak butuh penggantian darurat dari RSUD Meulaboh.

Dampak pada Layanan Kesehatan dan Pasien

Lumpur tak cuma rusak bangunan; ia lumpuhkan layanan medis. 90 persen tenaga kesehatan—62 dokter, 659 perawat, 668 bidan—terdampak: rumah mereka rusak, banyak yang mengungsi di Tamiang Sport Center. Pasien dipindah ke posko kesehatan darurat, di mana dokter layani dengan alat seadanya. Bayi baru lahir dan lansia paling rentan: tanpa listrik, inkubator mati, dan obat dingin rusak. “Kami kerahkan dokter ke posko, tapi beban berat,” kata Andika Putra. Korban banjir tambah 57 jenazah di Aceh Tamiang, dengan identifikasi pakai DVI Polri. Puskesmas dan pustu—15 puskesmas, 32 pustu—juga lumpuh, bikin warga susah akses obat dasar. Relawan dari luar daerah bantu: tim medis Jatim salurkan antibiotik dan obat trauma sejak 5 Desember.

Kesimpulan

RSUD Aceh Tamiang yang kini dipenuhi lumpur bekas banjir jadi cermin pilu bencana Aceh yang tewaskan 57 jiwa dan rusak ribuan rumah. Dari lantai tebal 40 cm hingga peralatan rusak miliaran, ini tantangan besar untuk layanan kesehatan di tengah 42 ribu pengungsi. Upaya tim gabungan TNI-BPBD tunjukkan gotong royong, dengan target bersih tiga hari beri harapan. Bagi tenaga medis yang 90 persen terdampak, ini ujian ketangguhan—mereka tetap layani di posko darurat. Pemulihan Aceh Tamiang panjang: ganti alat, pulihkan listrik, dan cegah banjir ulang. Semoga genset dan relawan percepat proses, dan lumpur itu segera jadi kenangan—ganti dengan ruang rawat yang bersih. Aceh kuat; solidaritas bangsa kunci bangkit.

BACA SELENGKAPNYA DI..